Ada 3 jenis korosi peka lingkungan, yaitu (Jones, 1992):
1.
Peretakan korosi tegangan (Stress
Corrosion Cracking/SCC).
Yang dinamakan dengan peretakan korosi-tegangan (stress-corrosion
cracking/SCC) pada suatu elemen mekanis adalah beban yang diterima langsung
oleh suatu logam yang berupa beban operasi dan beban oleh adanya tegangan sisa (residual
stress), yang menimbulkan fracture atau kerusakan pada benda.
Kondisi lingkungan (environment) yang dapat
mempengaruhi SCC kebanyakan berupa media cairan berupa peng-oksid,
terutama pada temperatur tinggi. Korosi tegangan bermula dari lekukan atau
lubang, alur dan semua bentuknya diskontinyu pada logam. Karena adanya
konsentrasi tegangan pada suatu formasi, maka kondisi cacat awal tersebut dapat
berlanjut karena adanya tegangan, dimana proses korosi berlangsung secara
bersamaan. SCC terjadi pada suatu logam campuran yang bekerja di kondisi
tegangan tarik statis. Logam yang murni biasanya lebih tahan terhadap peretakan
korosi tegangan.
2.
Peretakan korosi fatik (Corrosion
Fatigue Cracking/CFC).
Peretakan
korosi fatik (corrosion fatigue cracking/CFC) terjadi pada logam yang
mendapat beban terus menerus pada lingkungan yang korosif. Kelelahan atau fatik pada benda merupakan
akibat adanya beban yang berulang-ulang dan bervariasi. Beban yang
berulang-ulang akan cenderung menghantam permukaan dan menyebabkan keretakan.
Pertumbuhan keretakan pada penampang benda dapat mengurangi kemampuan puncaknya
dan mengakibatkan kegetasan, yang akan berlanjut menjadi fracture. Dalam
suatu media yang korosif daya tahan terhadap fatik dapat berkurang oleh variasi
besarnya beban dan frekuensinya sehingga akan terjadi akselerasi korosi fatik.
Intensitas korosi fatik akan lebih besar pada media yang korosif dengan
kandungan oksigen dan pada temperatur operasi yang tinggi. Korosi jenis ini
dapat terjadi pada logam paduan maupun logam murni.
3.
Hydrogent induced cracking
(HIC).
HIC terjadi karena hidrogen berdifusi kedalam
kisi-kisi logam campuran pada saat terjadinya evolusi hidrogen.
H2O +e- ® H + OH-
…………………………………………………....(2.6)
2H+ + 2e- ® H2………………………………………..........................(2.7)
Jones, Denny A. 1992. “Principles and Prevention of Corrosion” . Canada : Maxwell PublishingCompany.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar